Lazismujember.org - Cak Kin, tukang cukur sederhana di Jember, menjadikan gunting dan clipper sebagai sarana mencari nafkah sekaligus berbagi. Ia bahkan memberikan jasa cukur gratis atau meminta pelanggan membayar seikhlasnya.

Nama lengkapnya Solikin. Dia menjalankan usaha cukur rambut dari rumah sederhana di Jl. Mastrip 4, Kelurahan Tegalgede, Kecamatan Sumbersari, Jember.

Di tempat sederhana itu, Cak Kin tidak hanya mencari nafkah. Ia juga rutin bersedekah. Khususnya kepada mahasiswa dan warga sekitar yang sedang kesulitan ekonomi. Ketika ada pelanggan yang ingin mencukur rambut tetapi belum memiliki cukup uang, dia kerap berkata,”Bayar seikhlasnya saja, Mas.”

Bahkan dalam beberapa kesempatan, ia memberikan jasa cukur gratis. Bagi dia, membantu orang lain tidak harus menunggu kaya. Ia juga tidak perlu menunggu memiliki usaha besar atau kehidupan yang mapan.

Dengan alat cukur yang dimilikinya, ia memilih untuk tetap berbagi.

Lazismu Jember Beri Bantuan Alat Cukur

Semangat berbagi Cak Kin ini mendapat perhatian Lazismu Jember untuk memperkuat usaha sekaligus membuka peluang keberlanjutan.

Rabu (2/9/2026), Arief Nur Hartanto, Manajer Divisi Program Lazismu Jember, menyerahkan pentasyarufan bantuan kepada tukang cukur ini.

Bantuan tersebut berupa satu paket alat cukur. Isinya antara lain kain kap atau apron, clipper, gunting sasak, semprotan air, dan sejumlah perlengkapan cukur lainnya.

Bantuan itu memang sederhana. Namun bagi dia perlengkapan tersebut menjadi tambahan modal untuk menjalankan usaha sehari-hari.

Lazismu Jember berharap bantuan alat cukur tersebut dapat meningkatkan semangatnya dalam mengembangkan usahanya. Selain itu, bantuan tersebut diharapkan dapat memperkuat ikhtiar ekonominya.

Namun Lazismu Jember tidak berhenti pada pemberian bantuan alat usaha.

Lembaga tersebut juga mengajak Cak Kin untuk terlibat dalam program cukur gratis yang diselenggarakan Lazismu. Dengan demikian, keterampilannya dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

Dari Kursi Cukur, Kebaikan Terus Bergerak

Kisah Cak Kin menunjukkan sedekah tidak selalu berbentuk uang. Seseorang juga dapat berbagi melalui keahlian dan pekerjaan yang dimilikinya. Seperti mencukur rambut.

Ketika memberikan kesempatan kepada warga yang sedang kesulitan untuk membayar seikhlasnya, ia sebenarnya sedang membuka ruang bagi orang lain untuk tetap mendapatkan layanan yang dibutuhkan.

Nilainya mungkin tidak besar jika dihitung dengan rupiah. Namun, bagi seseorang yang sedang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, bantuan tersebut bisa sangat berarti.

Karena itu, bantuan alat cukur dari Lazismu Jember bukan sekadar pemberian clipper, gunting sasak, kain kap, atau semprotan air.

Lebih dari itu, bantuan tersebut menjadi ikhtiar untuk menjaga keberlangsungan usaha Cak Kin. Pada saat yang sama, bantuan itu juga mendukung semangat berbagi yang selama ini ia lakukan.

Upaya tersebut sejalan dengan pilar program Ekonomi Lazismu Jember. Pemberdayaan mustahik tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan penerima manfaat pada hari ini.

Sebaliknya, pemberdayaan juga mendorong penerima manfaat agar memiliki daya untuk terus bergerak secara mandiri.

Cak Kin memang bukan pengusaha besar. Tempat cukurnya juga bukan barbershop megah.

Namun dari tempat sederhana itu tumbuh sebuah pelajaran penting.

Kebaikan tidak selalu lahir dari orang yang berkelebihan. Kadang kebaikan justru tumbuh dari orang yang sedang berjuang, tetapi memilih untuk tetap berbagi.

Dari satu kursi cukur, kebaikan itu kini berpeluang bergerak kepada lebih banyak orang.

 

Kembali ke Daftar Berita