LazismuJember.org -  Dinkes PPKB (Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana) Pemkab Jember menjajaki kolaborasi dengan Lazismu Jember melalui Program Genting untuk memperkuat penanganan stunting berbasis keluarga.

Penjajakan tersebut berlangsung dalam sosialisasi Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) di Balai Diklat KKB Jember, Jalan Kalimantan No. 22, Jember, Jumat (28/8/2026).

Dinkes PPKB Kabupaten Jember menginisiasi pertemuan tersebut. Kegiatan itu menghadirkan Bidang Kesmas, penyuluh, dan operator Genting se-Kabupaten Jember.

Selain itu sejumlah mitra turut hadir. Salah satunya Lazismu Jember yang diwakili Manajer Program Arief Nur Hartanto.

Pertemuan tersebut membahas konsep Genting sekaligus membuka ruang penjajakan kerja sama antara Dinkes PPKB Jember dan Lazismu.

Meski demikian kedua pihak belum menyatakan kesiapan untuk bersinergi. Selanjutnya Dinkes PPKB Jember  membahas rencana tersebut dan menyiapkan Memorandum of Understanding (MoU) bersama Lazismu Jember.

Lazismu Paparkan Pengalaman Tangani Stunting

Dalam pertemuan itu, Arief memaparkan berbagai program Lazismu Jember yang berkaitan dengan penanganan stunting.

Menurut Arief, Lazismu Jember sudah menangani persoalan stunting sejak beberapa tahun lalu. Salah satunya melalui pemberian asupan gizi tambahan berupa produk Rendangmu.

Lazismu Jember memberikan bantuan sembako dan daging Rendangmu kepada anak terdampak stunting yang terdata di sejumlah desa dan kelurahan.

Arief  menjelaskan, dalam pelaksanaannya Lazismu juga menggandeng pemerintah desa dan kelurahan. Namun sekitar dua tahun terakhir, Lazismu Jember mulai menggeser fokus ke program pemberdayaan yang berdampak dan berkelanjutan.

Salah satunya melalui pilar Program Ekonomi dengan kegiatan pemberdayaan ayam petelur.

Bagi Lazismu Jember, sambung dia, pemberdayaan ekonomi penting dalam penanganan stunting. Sebab kondisi ekonomi keluarga ikut memengaruhi kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan pangan dan gizi.

Karena itu intervensi tidak cukup berhenti pada bantuan konsumtif. Pemberdayaan ekonomi dapat sekaligus memperkuat sumber pendapatan dan ketahanan pangan keluarga.

Program ayam petelur menjadi salah satu contohnya. Keluarga dapat memperoleh sumber pendapatan dari telur dan ayam yang mereka kembangkan.

“Pada saat yang sama, keluarga juga dapat memanfaatkan telur untuk memenuhi kebutuhan protein. Dengan begitu, program tersebut menyentuh aspek ekonomi sekaligus pemenuhan gizi,” tuturnya.

Selain itu keluarga dapat memanfaatkan sisa makanan dapur yang masih layak sebagai bagian dari pakan ayam. Langkah tersebut sekaligus membantu mengurangi sampah rumah tangga.

Dengan pendekatan itu, pemberdayaan ayam petelur tidak sekadar menghasilkan telur. Program tersebut juga mendorong keluarga memiliki sumber ekonomi dan pangan yang berkelanjutan.

Sipeka Kaliwates Jadi Contoh

Dia juga menjelaskan, Lazismu Jember memiliki pengalaman pemberdayaan ayam petelur di Kelurahan Kaliwates. Program tersebut menggunakan branding Sipeka atau Sinergi Pemberdayaan Ekonomi dan Pemenuhan Gizi Keluarga.

Dalam program itu, sambung dia, Lazismu menggandeng Kelurahan Kaliwates sebagai pemangku wilayah. Sementara itu Destana Kelurahan Kaliwates menjadi PIC lapangan.

Anggota Forum RT/RW kemudian terlibat sebagai pelaksana program. Mereka ikut mendukung pengembangan ayam petelur Kuntara hingga berkembang.

“Hasilnya produksi telur dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Sebagian telur juga dapat mendukung pemenuhan gizi anak terdampak stunting,” ujarnya.

Dalam pendistribusiannya, kader Posyandu membantu menyalurkan telur kepada sasaran yang membutuhkan.

Program pemberdayaan ini, menurut dia,  memberi dampak lebih luas. Tidak hanya menyentuh ekonomi keluarga, tetapi juga ketahanan pangan dan pemenuhan gizi.

Salah satu penerima program, Tole, menilai model tersebut dapat diterapkan di wilayah lain.

Padahal Tole tinggal di kawasan permukiman padat dengan lahan terbatas. Kondisi itu tidak menghalanginya mengembangkan ayam petelur hingga berhasil.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan lahan bukan selalu menjadi penghalang bagi program pemberdayaan.

Genting Buka Peluang Kolaborasi dengan Dinkes PPKB

Selain membahas konsep Genting, pertemuan tersebut membuka ruang bagi kedua pihak untuk melihat potensi kolaborasi.

Arief menerangkan, program ini nantinya juga menggunakan aplikasi Genting. Aplikasi tersebut diharapkan dapat menyajikan data dinamis anak terdampak stunting.

Data tersebut penting untuk menentukan intervensi yang lebih tepat. Dengan data yang baik, program dapat menyesuaikan kebutuhan setiap sasaran di lapangan.

Bagi Lazismu Jember, kata Arief, pengalaman menjalankan bantuan pangan dan pemberdayaan menjadi modal dalam penjajakan kerja sama tersebut.

Namun Arief menegaskan Lazismu memiliki keterbatasan sumber daya. Lazismu bukan lembaga superholding dengan dana yang tidak terbatas.

Karena itu, jika kerja sama Genting dan Lazismu Jember terwujud melalui MoU, dukungan masyarakat tetap menjadi bagian penting.

Masyarakat dapat berkolaborasi melalui program-program Lazismu dengan menitipkan sebagian rezekinya. Lazismu kemudian mengelolanya agar memberikan manfaat yang lebih luas.

Sebab, penanganan stunting membutuhkan lebih dari satu program dan satu lembaga. Upaya tersebut memerlukan data yang baik, intervensi tepat, pemberdayaan keluarga, dan kolaborasi berbagai pihak.

 

 

Kembali ke Daftar Berita